Nikon D40 (my own review)
Published 16 November 2007 DSLR , Personal , Review
Pada kesempatan kali ini saya akan menyajikan sebuah mini-review dari produk DSLR keluaran Nikon yaitu D40 yang saya beli pertengahan tahun ini.
Nikon D40 semenjak peluncuran perdananya hampir setahun lalu, hingga kini masih menjadi kamera SLR digital termurah yang tersedia dipasaran. Dengan harga 5 jutaan, Anda sudah bisa memiliki DSLR 6 mega piksel dengan lensa kit 18-55 DX II f/3.5-5.6. Memang Nikon D40 diposisikan untuk mengisi pasar DSLR kelas murah dan bersaing dengan Canon EOS 350D (8 MP) serta Pentax K100D (6 MP).
Tren DSLR murah kini telah berhasil menggerus pasar kamera digital prosumer yang umumnya berharga 4 jutaan. Dengan gap harga yang begitu dekat, Nikon berharap para calon pembeli prosumer untuk tidak tanggung-tanggung dalam fotografi dan langsung beralih ke DSLR.
Memang demi memangkas harga, Nikon memutuskan untuk meniadakan motor auto fokus pada D40. Artinya, lensa yang bisa autofokus pada D40 hanyalah lensa Nikon berformat AF-S (dan sekarang juga ada lensa Sigma berformat HSM) yang memiliki sistem auto fokus pada lensanya. Hal ini memang menjadi masalah bagi mereka yang telah memiliki koleksi lensa lama (Nikon AF) karena terpaksa hanya bisa manual fokus pada D40. Namun jika Anda adalah pemain baru di dunia DSLR semestinya tidak perlu kuatir karena Nikon akan terus meluncurkan lensa baru berformat AF-S yang tentunya dapat auto fokus di D40.
Dengan ukuran 126 x 94 x 64 mm, body D40 memang secara umum terasa lebih kecil dibanding SLR lain, bahan materialnya memang terbuat dari plastik namun terasa kokoh. Dengan lensa kit terpasang Anda akan merasa kamera ini masih ringan, bahkan jika Anda menambah lampu kilat eksternal SB-400 sekalipun. Layar LCD TFT beresolusi 230.000 piksel yang dipakai cukup lebar dengan ukuran 2,5 inci terlihat tajam dengan viewing angle yang lebar. Di layar inilah ditampilkan menu utama untuk semua setting kamera. Optical viewfinder cukup terang meskipun hanya menggunakan penta-mirror (tidak seperti DSLR kelas atas yang menggunakan penta-prism). Handgrip relatif kecil untuk ukuran orang dewasa bertangan besar, saya masih merasa lebih nyaman saat menggenggam prosumer Lumix FZ50, misalnya. Namun meski ukuran handgrip yang relatif kecil, Nikon berhasil menjaga ergonomi kamera ini dengan baik. Terbukti saat menggunakan kamera ini dengan satu tangan ternyata tetap terasa stabil dan mantap digenggam.
Nikon D40 mengusung format DX yang artinya ukuran sensornya lebih kecil dari sensor full frame/film 35mm. Memang sensor CCD dari Nikon D40 hanya memiliki resolusi 6 MP dengan format 3:2, namun rasanya 6 MP sudah cukup untuk keperluan fotografi sehari-hari hingga urusan cetak berukuran sedang. ISO tersedia dari 200 sampai 1600, plus Hi+1 (ekuivalen 3200), dimana pada ISO 200 dan 400 tidak tampak adanya noise, ISO 800 masih cukup bersih dari noise, dan ISO 1600 noise yang ada masih cukup terjaga dengan baik. Nikon berhasil membuat komposisi seimbang pada algoritma noise reduction D40 yang tetap dapat mempertahankan detail foto. Yang menarik, terdapat fitur auto ISO yang amat bermanfaat. Anda tidak perlu pusing untuk mengatur nilai ISO. Cukup aktifkan fitur ini, tentukan berapa nilai ISO maksimal dan pada shutter berapakah auto ISO akan bekerja. Selebihnya setiap Anda mengambil foto, D40 akan menentukan sendiri apakah ISO perlu dinaikkan atau tidak, dan menentukan juga berapa nilai ISO yang tepat untuk kondisi pencahayaan saat itu.
Meski menjadi DSLR termurah, performa Nikon D40 ternyata amat baik. Start up singkat, auto fokus cepat dan akurat (berkat Silent Wave Motor pada lensa) dan shutter lag yang juga singkat. Bila burst mode diaktifkan, D40 bisa mengambil gambar secara kontinyu sampai 2,5 gambar per detik. Shutter D40 memiliki kemampuan hingga 1/4000 detik dengan kombinasi mechanical dan electrical shutter. Terdapat pilihan eksposure mode auto atau manual, serta beberapa Digital Vari-program untuk keleluasaan pemotretan. Untuk pilihan metering tersedia 3D color matrix II (420 pixel RGB sensor) yang menjadi andalan SLR Nikon generasi baru, selain itu Anda juga bisa memilih center weighted atau spot metering. Untuk pilihan white balance tersedia mode auto (cukup aman untuk berbagai sumber cahaya) dan berbagai pilihan preset white balance yang dapat di fine tuning (ke arah + atau -). Auto fokus menggunakan modul Multi-CAM530 dengan 3 titik horizontal (left, center, right) dengan AF area mode yaitu : Closest subject (default-sensor akan memilih objek terdekat), dynamic area (sensor memilih 1 dari 3 titik fokus) atau single area (memilih 1 dari 3 titik fokus secara manual). Selain itu terdapat pilihan focus mode : Continuous/AF-C (untuk objek yang terus bergerak), Single servo/AF-S (untuk objek diam) dan auto (AF-A) yang mendeteksi gerakan objek dan otomatis menentukan servo fokusnya. Untuk membantu sistem auto fokus dalam kondisi gelap, tersedia sebuah lampu AF assist berwarna putih terang (dan berfungsi juga sebagai indikator saat self-timer). Built-in flash dengan guide number 12 pada ISO 100 bekerja cukup baik, dengan i-TTL system yang cerdas mengatur intensitas pencahayaan sesuai jarak objek terhadap kamera. Hebatnya lagi D40 memiliki flash-sync sampai 1/500 detik, suatu angka yang jarang dimiliki oleh SLR lain. Nilai flash-sync secepat ini bermanfaat bila ingin menggunakan lampu kilat saat siang hari. Apabila dibutuhkan flash yang lebih terang dapat mempertimbangkan flash eksternal yang dipasangkan di hot shoe D40. Selain itu flash eksternal memungkinkan cahaya dibouncing ke langit-langit sehingga jatuhnya cahaya akan lebih alami.
Untuk lensa kitnya Nikon telah mengeluarkan lensa AF-S 18-55 DX f/3.5-5.6 generasi II dengan SWM, sudah cukup baik untuk mulai jeprat-jepret. Karena lensa Nikon akan terkena crop factor 1,5x bila dikonversi ke format 35mm, maka jangkauan lensa ini jadinya setara dengan 28-85mm (3x zoom), sehingga cukup ideal untuk wide hingga medium telephoto. Disamping itu lensa termurah dari Nikon ini juga telah dilengkapi lensa aspherical dan lensa berelemen ED ( untuk menghindari penyimpangan warna serta menjaga ketajaman dan kontras). Toh jika jangkauan zoomnya kurang, Anda bisa menabung dulu untuk nantinya menambahkan lensa tele ekonomis Nikon AF-S 55-200 DX (1,6 juta untuk non-VR dan 2,2 juta dengan VR). Kekurangan lensa ini adalah bodinya yang terbuat dari plastik (termasuk mountingnya), bokehnya yang kurang blur dan manual fokus yang sulit (tidak bisa beralih dari auto ke manual fokus secara langsung, harus menggeser A/M switch terlebih dahulu).
Bila disimpulkan, hal yang layak diacungi jempol dari Nikon D40 (dan lensa kitnya) adalah performanya yang melebihi harganya. D40 beserta lensa kitnya telah mampu menghasilkan foto berkualitas dengan warna yang indah (meski default JPEG cenderung agak over saturated), eksposure dan kontras yang baik serta noise yang relatif bersih meski pada ISO tinggi. Selain itu layar LCD yang tajam, usia baterai awet (menggunakan baterai baru tipe EN-EL9), menu sangat simpel dan mudah, adanya retouch menu dan sudah mendukung USB 2.0 serta SDHC memory card (sampai 4 GB).
Tentu saja dengan harga semurah ini, Nikon D40 tidak bisa lepas dari kekurangan. Pertama tentunya adalah keterbatasan pilihan lensa yang bisa auto fokus di D40. Selain itu, auto fokus yang hanya 3 titik dapat menyulitkan saat memotret vertikal, tidak ada top status LCD (meski bagi sebagian orang ini bukan suatu masalah), tidak ada mode exposure bracketing, tidak ada DOF preview dan tanpa fitur yang sedang tren saat ini, sistem ‘anti debu’.
So, D40 memang layak direkomendasikan sebagai kamera DSLR entry level terbaik saat ini. Demikianlah mini-review yang saya dapat sajikan, semoga dapat berguna bagi Anda terutama yang sedang bingung mencari DSLR idaman, salam.